Just A review From me: [MOVIE] Ghost In The Cell Review

Tuesday, October 6, 2026

[MOVIE] Ghost In The Cell Review

Before Prolog 

Ferdy Sambo dkk (tetap) akan tertawa jika melihat film ini -_-

sumber : instagram

Prolog


Jika anda “jeli” menonton film-film buatan Joko Anwar pasti menyadari jika ada unsur “menyindir keadaan sebuah negara” yang umumnya tampil sebagai jokes belaka. Nah apa jadinya jika ada Joko Anwar membuat film yang isinya FULL “menyindir keadaan sebuah negara” sambil tidak lupa tetap dibungkus dengan genre horor.

 

Hasilnya adalah “Ghost In The Cell” yang saat ini sudah bisa ditonton secara “bebas” (baca : streaming), film ini sendiri tergolong sukses besar saat tayang di Bioskop pada bulan April lalu yang otomatis semakin melambungkan nama Joko Anwar sebagai sutradara terbaik di Indonesia. Tapi apakah film ini benar-benar bagus ???

 

…

…

…

 

Iya sih bagus tapi tetap saja memiliki kelemahan khas Joko Anwar yaitu bagian akhir yang terlalu “lah gitu doang” dan untuk film ini malah lebih casual alias tidak menjadi multi-tafsir seperti film-film sebelumnya.

 

Jika Dibandingkan

sumber : wikipedia


Karena mengambil tema prison life + pengetahuan saya minim tentang hal ini jadi saya bandingkan saja dengan Manga “Rainbow” karangan George Abe. Setidaknya unsur-unsur kehidupan penjara terlihat sama meskipun beda jaman + setting.

 

Melihat Dari Sisi Lain


Karena film ini digarap langsung oleh Joko Anwar jadi sudah otomatis bakal laris manis di Indonesia sih, cuma anehnya Joko Anwar memilih untuk menayangkan film ini pada beberapa festival film di luar negeri dan (katanya sih) umumnya mendapat pujian besar. Masalahnya yah saya (pada waktu itu) tidak menemukan artikel yang mendukung tentang hal ini (malah rating versi Rotten Tomatoes baru muncul bulan ini).

 

Setelah menonton saya bisa mengerti mengapa unsur horor pada film ini bisa dipuji-puji negara lain, tapi untuk unsur komedi terlihat janggal karena komedi pada film ini sangat Indonesia-centric” alias cuma bisa dimengerti WNI saja (seharusnya warga aseng planga-plongo melihatnya XD).

 

Overview

 


Dimas adalah seorang jurnalis yang sedang menulis artikel tentang kebakaran hutan untuk ladang sawit tambang nikel ilegal sebelum melihat atasannya mati secara M E N G E R I K A N oleh sebuah “entitas”, sialnya Dimas terpaksa harus menjadi tersangka dan harus “menginap” di Penjara Labuhan Angsana. Di penjara ini sendiri akan ada banyak karakter dengan berbagai keluh-kesahnya masing-masing yang membuat film ini menjadi menarik (apalagi berbagai jokes / dialog yang amat sangat menggambarkan negeri ini XD).


Masalah tiba ketika muncul beberapa korban baru di penjara ini dengan kondisi yang tidak kalah M E N G E R I K A N, apakah ini semua ada hubungan dengan Dimas ??? lalu bagaimanakah respon + reaksi para napi untuk melawan entitas ini ??? silahkan nonton untuk mencari tahu jawabannya.

 

Overall film ini tergolong di atas rata-rata dengan atmosfir horor dan komedi satir yang tampil memuaskan. Nyaris semua unsur prison life akan penonton temukan pada film ini (termasuk prison rape yang tampil kocak XD). Adegan Gore pada film ini mengingatkan saya pada masa-masa keemasan Detektif Conan / Kindaichi tapi bedanya disini pelakunya adalah entitas supranatural.

 

Seberapa parah gorenya ??? biarkan gambar yang berbicara (bahkan sempat ada acara pameran seni untuk film ini yang isinya adalah kondisi para korban XD).

 

sumber : instagram

 

Lalu bagaimana dengan solusi untuk melawan entitas ini ??? ternyata entitas ini mengincar orang-orang dengan aura warna merah (negatif) sehingga untuk melawannya para napi harus membuat aura pada diri mereka menjadi positif yang akan dilakukan dengan dua cara.

 

Yang pertama mudah tapi tidak semua bisa melakukannya alias tidak berlaku untuk yang atheist / agnostic XD

 

sumber : facebook

 

Yang kedua lebih mudah dan seharusnya bisa dilakukan semua orang yaitu

 

sumber : tenor

Berikut adalah kritik utama untuk film ini :

 

- adegan Gore yang terlalu Over The Top (berlebihan) tapi minim konteks tentang entitas itu sendiri, dan kelak jawabannya malah membuat saya kecewa

 

- (lagi-lagi) percuma Gore dibuat artistik kalau tidak ada konteksnya, apakah Joko Anwar tidak mau mengulangi tragedi Raminom ???

 

- beberapa informasi extra tentang masa lalu para napi tersedia di media lain (facebook Joko Anwar contohnya) dalam bentuk characters sheet

 

- SPOILER ALERT!!! pada akhirnya entitas tersebut menemukan “target utama” tapi sudah terlalu banyak korban yang mati “sia-sia” alias cuma jadi “tumbal proyek doang” (apakah ini simbolisme untuk sebuah *pippp)

 

 

Yang terpenting adalah Ending + Epilog yang terlalu “Lah Gitu Doang” yang sepertinya sudah menjadi ciri khas Joko Anwar untuk saat ini, sayang sekali melihat build up yang dibangun dari awal dan pertengahan film harus berakhir seperti ini (meski tetap menghibur sih). Alhasil film ini malah mengingatkan saya pada…

 

sumber : instagram

 

Seperti biasa waktunya kritik “ngaco” :

 

-  Penonton seharusnya sudah bisa melihat “penglihatan warna aura dari Six” setelah korban pertama di penjara ditemukan (karena sudah dipastikan kalau ini bukan perbuatan manusia), sayang sekali ketika penonton mulai bisa melihat aura adegannya tergolong kocak jadi terasa aneh -_- .

 

- jokes dan dialog yang “Indonesia banget” tapi mengapa bisa diterima oleh negara lain (yg nonton duluan) ??? apakah ini tanda-tanda negara ini mulai disegani para antek-antek aseeng XD ???

 

- masih bingung dengan wujud entitas yang mengandung unsur tyrophobia (namanya juga minim konteks) -_- ??? apakah “bolong” seperti hukum di negeri ini ???

 

- Pabrik narkoba Geng Rendra yang tidak dieksplor padahal bisa menjadi salah satu solusi untuk melawan entitas ini (klo nge-fly otomatis aura tidak negatif bukan XD ???), kenapa sepertinya Joko Anwar sensitif sekali untuk unsur ini ???


Characters

 

Dimas Kurniawan (Endy Arfian)


sumber : imdb

 

Jurnalis koran / majalah ekonomi yang dipenjara karena "diduga" membunuh atasannya.

 

Ini dia tokoh utama di film ini yang tampil full planga-plongo saking cupu + culun + polos tapi malah menjadi tokoh paling penting di film ini karena dianggap “menuntun” entitas ke target sebenarnya. Sebelum dipenjara dia sedang meneliti kasus kebakaran hutan di Kalimantan demi Tambang Nikel Ilegal yang ternyata memiliki berbagai kasus pembunuhan dengan kondisi korban yang M E N G E R I K A N.

 

Anggoro (Abimana Aryasatya)


sumber : imdb

 

Dipenjara karena “melawan” Mafia Tanah (jadi sudah jelas siapa yang menang dong XD)

 

Napi yang sering dianggap “pemimpin” karena mau melindungi / membela napi lainnya dari ancaman sipir / napi lainnya. Dia Seharusnya sudah lama bebas tapi remisinya ditolak karena dia sering membela para napi lainnya. Dari tokoh inilah penonton mulai menganggap jika entitas itu adalah…


sumber : resetera

 

Six (Yoga Pratama)


sumber : instagram

 

Dipenjara karena penipuan online (pura-pura menjadi perempuan), disebut Six karena merupakan anak ke-enam anak dari suami ke-enam XD.

 

Six yang mengaku atheist dibuat sakit-sakitan pada awal film ini sebelum nanti sembuh dan bisa melihat “aura” dari orang-orang sekitarnya. Hal ini membuat Six menjadi tokoh yang penting untuk memperingatkan napi lainnya jika aura mereka menjadi merah (baca : diincar entitas).

 

Wildan (Mike Lucock)


sumber : instagram

 

Dipenjara karena kasus dukun pengganda uang.

 

Wildan adalah karakter paling religius di film ini sekaligus orang yang bisa menafsirkan arti warna aura yang dilihat oleh Six. Tentu saja solusi awal yang dia berikan tidak jauh-jauh dari kata A G A M A XD.

 

Irfan (Danang Suryonegoro)


sumber : instagram

 

Dipenjara karena kasus penipuan lewat telepon

 

Menjadi karakter yang memperkenalkan Dimas pada lingkungan penjara yang mereka tempati (tentu saja dengan berbagai dialog lucu namun fakta XD).

 

Pendi (Lukman Sardi)


sumber : instagram

Dipenjara karena mencoba menguak kasus korupsi di kampusnya (terus “dijebak” deh XD).

 

Dosen filosofi yang memilih untuk menjadi orang bodoh di penjara agar bisa lebih mudah berbaur dengan napi lainnya. Pengetahuannya tentang filosofi akan berguna di pertengahan film nanti.

 

Jefri (Bront Palarae)


sumber : imdb

 

Sipir penjara yang berlaku semena-mena dan hobi menyiksa para napi secara fisik + mental. Ini semua dia lakukan demi mendisiplinkan para napi.

 

Sapto (Kiki Narendra)


sumber : imdb

 

Waduh Pak Ustadz + Bapak yang anaknya terduga jomok ini lagi XD

 

Atasan Jefri yang dibuat “penjilat banget” (apalagi kepada Napi VVIP di film ini -_-), tipikal orang nyebelin sih, apakah nasib "sama" (baca : film-film Joko Anwar sebelumnya) akan menimpanya kali ini XD ???

 

Tokek (Aming)


sumber : instagram

 

Ini nih karakter yang dipromosikan terlalu berlebihan yang membuatnya menjadi “Lady Dimitrescu” (Resident Evil : Village) versi lokal (termasuk nasibnya XD)

 

Napi paling berbahaya karena gemar membunuh + memperkosa napi yang menjadi targetnya, dia sendiri menjadi semacam agen pembunuh untuk geng Rendra. Awalnya ditugaskan untuk membunuh Dimas tapi ujung-ujungnya malah…. (insert rape jokes / dialogue here)

 

Meski singkat, aktingnya tergolong bagus banget (apalagi bagi generasi yang biasa mengenal aktor ini sebagai karakter “bencong” XD). Menurut FB Joko Anwar karakter Tokek ini dulunya tergolong orang baik sebelum “dirusak” oleh realita dunia.

 

Bimo (Morgan Oey)

 

sumber : instagram

Anggota Geng Rendra yang selalu mencoba mencari solusi yang paling efektif, dia nanti akan terlibat duel dengan Anggoro sekaligus menjadi adegan dimana penonton bisa mulai melihat aura para karakter di film ini.

 

Rendra (Ho Yuhang)


sumber : instagram

 

Karakter dengan backstory terkeren versi saya (nusuk orang “cuma” karena memainkan musik yang tidak dia sukai XD)

 

Pemimpin Geng Rendra-Oh (seingat saya sih namanya seperti ini) yang memiliki pabrik narkoba di penjara ini (yang tidak dikembangkan lagi -_-), dia sendiri cuma muncul di 2 adegan saja kok.

 

Prakasa (Arswendy Beningswara)


sumber : IDN times

 

Aktor yang pernah saya hormati sebelum menyadari jika anaknya adalah -_-

 

Napi VVIP karena kasus korupsi yang otomatis membuatnya menempati sel blok K yang selain mewah juga memiliki “preman” pribadi. Kondisi selnya tidak perlu saya jelaskan yah (mirip dengan kondisi di dunia nyata kok -_-). Suka tidak suka inilah “target utama” yang diincar oleh entitas di film ini (entah berhasil atau tidak karena pada dasarnya Koruptor itu ada Buanyakkkk sekali di negeri ini -_-)

 

Novilham (Magistus Miftah)


sumber : instagram

Pelatih seni tari di penjara ini yang aksinya cukup menarik (karena terlihat sekali aura “boti-nya” XD), dia nanti akan melakukan adegan tarian yang cukup keren meski situasi hatinya sedang galau berat karena sanggar tarinya akan dirobohkan + menjadi kantor untuk politikus. Jadi nasibnya sudah bisa ditebak ya….

 

Konon aktornya mendapat peran ini melalui kontes online yang diselenggarakan oleh Joko Anwar.

 

Conclusion

 

Sebuah film yang pada akhirnya hanya menjadi “komedi satir” yang bisa menghibur penonton tanpa perlu berpikir banyak-banyak padahal tema yang dipakai amat sangat menggambarkan keadaan di negara ini -_-.

 

Untuk tahun depan siap-siap kembali ke Pengabdi Setan yah….

 

 

My Score

70, when yh film ini menjadi kenyataan..

sumber : facebook

No comments:

Post a Comment